Thalasemia, Penyakit yang Bikin Khawatir Saat Hamil - Adisty Titania

Sabtu, 28 November 2020

Thalasemia, Penyakit yang Bikin Khawatir Saat Hamil

Penyakit thalasemia. Udah pada familair belum, sih, dengan penyakit ini?


Mungkin kalau keponakan saya nggak mengalami penyakit thalasemia, saya pun juga bakal nggak terlalu aware. Lebih telat taunya, nggak banyak cari informasi, dan mungkin nggak akan terlalu khawatir saat program hamil dan menjalani kehamilan.


Iya, hampir 10 tahun yang lalu, saat awal tau hamil, saya bisa nangis berhari-hari. Di balik rasa bahagia karena tahu di dalam perut ada janin yang akan hidup bersama-sama dan akan saya bawa kemana pun saya pergi, saya juga takut. Takut kalau penyakit thalasemia akan dialami sepanjang hidupnya.

Penyakit Thalasemia Tidak Bergejala

Tanpa saya sadari, termasuk keluarga besar, ternyata keluarga saya memang memiliki sifat pembawa penyakit ini. Fakta ini sendiri baru diketahui keluarga saya ketika keponakan saya, Icha, sakit saat usianya masih 6 bulan.


Setelah melewati proses pemeriksaan yang panjang, akhirnya dokter menyatakan kalau keponakan saya ini mengalami penyakit thalasemia. 


Sebenarnya, almarhum kakaknya Icha pun mengalami hal serupa. Rafi, namanya. Saat usia 6 bulan, Rafi berpulang. Ketika itu, keluarga besar masih belum tahu kalau sebenarnya adanya masalah ginjal yang merenggut nyawa Rafi juga dipicu penyakit thalasemia. 


Yang kami tau, menjelang kepulangannya, waktu itu Rafi memang sangat rewel, gampang nangis, kulitnya juga pucat sekali. Perutnya juga keliahatan makin membuncit. Siapa sangka, setelah sempat demam, tahu-tahu dia kejang. Dan saat di bawa ke dokter sudah nggak tertolong lagi. 


Baru setelah Icha lahir, dan di usia yang sama dengan almarhum kakaknya, tiba-tiba saja Icha sakit. Demam tinggi, rewel bukan main. Ternyata setelah diperiksa, dan kakak saya menjelaskan riwayat almarhumah kakaknya, dokter pun langsung merujuk untuk melakukan pemeriksaan yang cukup detail, khususnya terkait pemeriksaan darah. Termasuk pemeriksaan lewat tulang sumsum. 


Benar aja, Icha dinyatakan mengalamai Penyakit thalasemia. Kondisi yang membuatnya harus mendapatkan transfusi darah sepanjang hidupnya. 


Bagi orang yang mengalami penyakit ini, memang jadi nggak mampu memproduksi sel darah merah dan hemoglobin. Makanya, kalau sel darah merahnya sudah abis, ya, perlu transfusi darah. 


Padahal, hemoglobin itu punya peran besar.Mmembawa oksigen ke seluruh tubuh, dan mengangkut lagi karbon dioksida ke paru-paru. Jadi, kalau asupan darah berkurang, tentu akan menyebabkan kerusakan pada beberapa organ.


Penyakit ini merupakan penyakit kelainan darah genetik atau penyakit bawaan. Jika ada anggota keluarga yang punya riwayat penyakit ini, maka ada kemungkinan juga kita ngalamin hal serupa. 


Mungkin tidak jadi penderita thalasenua mayor yang membutuhkan transfusi setiap bulannya, tapi hanya pembawa sifat, sehingga tidak perlu ditransfusi. Tapi, kalau pembawa sifat menikah dengan orang pembawa sifat juga, risiko punya anak yang mengalami penyakit thalesmia makin besar. 


Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Menika dan Hamil


Makanya, waktu hamil saya was-was bukan main. Nyesel kenapa, sih, nggak cek kesehatan dulu? Kenapa, sih, nggak mempersiapkan tubuh ini sebagai rumah yang nyaman buat janin saya? Dan sederet penyesalan lainnya.


Kebayang bagaimana rasanya jadi kakak saya. Kebayang bagaimana rasanya harus mendampangi anak transfusi darah setiap bulannya. Kebayang semua risiko yang bisa muncul....


Memang, saat ini semuanya sudah bisa dilalui dengan baik. Tumbuh kembang keponakan saya, Icha pun alhamdulillah sangat baik. Sehat.


Ya tapi seperti yang sudah saya tulis di atas, orang dengan penyakit thalesemia harus ditransfusi darah setiap bulannya. Tapi karena anaknya sudah remaja, ia pun sudah memahami. Bahkan kalau transfusi darah juga sudah berani sendiri. Nggak ada ceritanya dia nangis karena ditusuk jarum :)


Seneng liat pertumuannya kaya remaja lainnya.... harapannya dunia kedokteran bisa segera menemukan obatnya. Obat ataupun treatment yang bisa bantu orang dengan thalesemia memproduksi sel dan merah dan hemoglobin. 


Mengingat fakta penyakit thalesmia banyak diderita orang Indonesia, belum lagi dengan segala tantangan dan risikonya, penting untuk menyadari bahwa penyakit ini ada dan belum bisa diobati.


Terus gimana? Ya, sudah, cara mencegahnya itu sebelum nikah dan punya anak harus periksa kesehatan dulu. Pastikan dulu kondisi tubuh kita sehat. Kondisi suami juga sehat. Jadi, bibit yang dihasilkan pun bisa sehat. 


Jangan kaya saya, waktu awal hamil saya bener-bener ketar ketir. Percaya, deh, di saat hormon lagi bergejolak, terus was-was kaya gitu... rasanya nggak enak. 


Masih ingat gimana respon dokter kandungan pas denger saya cerita kalau di keluarga saya ada yang thalesimia. Ngeselinnya bukan main.

 

"Dok... kalau setelah pemeriksaan darah ternyata saya dan suami saya pembawa sifat gimana? Supaya anak saya nggak Thalasemia, harus gimana ya, dok?"

"Ya, sudah... kalau nggak mau anaknya thalasemia, ibu sama bapak pisah aja. Cerai. Pastikan pasangannya nggak pembawa sifat."


Duuaaaaaaarrrrr...... kayanya saya pengen tampol aja waktu itu, ahahahhahahaaa. Tapi, ya, nggak bisa. Toh, apa yang dibilang memang bener, kok. 


Itulah pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum nikah dan sebelum punya anak. Semua memang idealnya direncanakan dengan baik.


Syukurnya, hasil pemeriksaan waktu itu memperlihatkan kalau Doni memang bukan pembawa sifat. Saya? Sayangnya untuk benar-benar memastikan saya pembawa sifat apa nggak, perlu pemeriksaan yang cukup panjang. Berhubung dana terbatas, pemeriksaan nggak lanjut.


Tapi PR besar saya, kalau Bumi nanti mau nikah, saya harus memastikan dia melakukan pemeriksaan kesehatan dan darah lebih dulu. 


Jangan sampe dia dan istrinya ngerasain rasa khawatir yang dulu dirasain sama ibu bapaknya. Beneran, deh, rasanya nggak enak!


Jadi, please-lah... yuk, persiapkan kehamilan dengan baik. Supaya anak kita juga tumbuh sehat dan tumbuh kembangnya baik. Meskipun belum ada obatnya, tapi penyakit thalesmia ini bisa dicegah, kok...






Tidak ada komentar:

Posting Komentar