“Karena, sekali lagi, yang
sedang happening dan tren belum tentu yang benar bukan?” – dr Meta Hanindita SpA.
Kutipan di atas saya ambil dari blognya dr. Meta, dokter anak yang selalu berbaik hati kasih informasi soal kesehatan anak. Ini nggak cuma untuk keperluan penulisan di Mommies Daily aja, lho, ya. soalnya dokter anak yang berpraktik RSUD Dr Soetomo, Surabaya ini juga nggak keberatan kalau saya tanya-tanya meskipun untuk kepentingan pribadi. Contohnya semalam, dr. Meta langsung kasih saran terbaik ketika tahu-tahu anak saya hampir setengah hari muntah tak berkesudahan *makasih banyak, ya, dok.. *salim :D
Kutipan di atas saya ambil dari blognya dr. Meta, dokter anak yang selalu berbaik hati kasih informasi soal kesehatan anak. Ini nggak cuma untuk keperluan penulisan di Mommies Daily aja, lho, ya. soalnya dokter anak yang berpraktik RSUD Dr Soetomo, Surabaya ini juga nggak keberatan kalau saya tanya-tanya meskipun untuk kepentingan pribadi. Contohnya semalam, dr. Meta langsung kasih saran terbaik ketika tahu-tahu anak saya hampir setengah hari muntah tak berkesudahan *makasih banyak, ya, dok.. *salim :D
Nah, beberapa
hari lalu saya juga habis ngobrol dengan dr. Meta. Awalnya sih, memang saya lagi mau update soal vaksin lanjutan untuk anak SD, termasuk soal vaksin MR. Tapi ujung-ujungnya
kami malah ngebahas soal BLW yang belakangan ini kembali dibikin ngetren sama seorang artis.
Ternyata metode BLW yang ia terapkan memang banyak diikutin sama follower-nya.
Sayangnya, para
follower-nya ini sepertinya main asal ikut-ikutan aja. Tanpa lebih dulu konsultasi dengan ahlinya, dalam hal ini tentu saja dokter anak.
Beberapa hari
lalu, juga ada cuitan seorang dokter yang bilang kalau dirinya baru saja
selesai operasi Karena usus bayi yang
terlipat karena diberi makanan padat sebelum waktunya. Bahkan, pemilik akun
twitter @aan__ ini juga sempat mengeluhkan kalau kebanyakan ibu-ibu masa kini
alias ibu milenial yang pinter ini suka lupa dengan kepentingan dan kondisi
bayinya.
Duh, sedih nggak sih?
Duh, sedih nggak sih?
Rupanya,
terlipatnya usus bayi memang jadi salah satu risiko yang bisa didapatkan kalau
anak yang belum siap makan makanan padat, tapi sudah diberikan. Mengenai BLW,
dalam blog-nya dr. Meta juga sudah cukup panjang memberikan penjelasan mengapa
BLW tidak direkomendasikan untuk dikenalkan pada tahapan awal MPASI. Sok, langsung buka blognya dr. Meta.
Makanya, sebagai
dokter anak, dr. Meta dan rekan sejawatnya banyak yang miris kalau ibu-ibu
milenial ini banyak yang gampang banget ikutan tren. Gampang terbawa arus,
gitu…. Apa yang lagi hietz, langsung aja dicaplok. Ditiru tanpa memerhatikan
sesuai apa nggak dengan dirinya. Mungkin untuk dianggap kekinian? Bisa jadi.
Tapi bisa
dimaklumin, sih, dari beragam survei
memang terbukti generasi millennial itu nggak mau sedikit pun melewati informasi
yang sedang tren. Kebanyakan akan mengacu tren, yang dilihat dari
sosial media. Hal ini pun berlaku pada tren pola asuh. Tapi lagi-lagi,
apa iya semuanya lantas ditelan begitu saja? Rasanya, sih, nggak.
Buat saya, urusan
pola asuh ini sangat personal. Lah wong, nasihat dari orangtua saja ada kalanya nggak saya
ikutin karena memang rasanya sudah nggak cocok. Nah, gimana dengan orang lain?
Artis yang saya kenal cuma lewat media massa.
Langsung ngikutin tren tanpa lebih dulu konsultasi dengan ahlinya.
Ok, dalam hidup
kita memang perlu role
model, bikin kita terpacu untuk
melakukan yang terbaik, Bukan berarti harus maksain diri jadi sama kan? Apalagi
soal gaya asuh. Bukan apa-apa, kalau saya hanya mencoba untuk ingat kalau pada
prinsipnya semua orang, termasuk anak-anak kita unik. Jadi nggak perlu
diperlakukan seragam. Yang baik untuk orang lain, belum tentu baik untuk
diri kita sendiri. Selain itu, menurut saya sih, kadang kala apa yang dianggap orangtua paling benar dan terbaik untuk anak, belum tentu demikian.
Semula saya
pikir, orang-orang yang jadi follower ini adalah mereka yang mungkin saja level
pendidikannya nggak tinggi. Tapi saya salah. Bahkan, kemarin waktu ngobrol dengan dr. Meta, ia
menyebutkan bahwa banyak yang high
educated. Namun, memang
mereka semua itu ibu-ibu baru, yang baru punya satu anak.
Dr. Meta juga
menegaskan kalau sejak awal metode BLW dikenalkan terlalu dini, maka ada
beberapa risiko yang menanti, contohnya anemia defisiensi besi dan stunted.
“Bahkan, di Negara seperti New Zealand yang Departemen Kesehatannya aware banget juga sudah mengeluarkan aturan resminya, kalau BLW itu nggak
direkomendasikan. Masalahnya dari penelitian yang sudah ada di luar, BLW memang
penyebab defisiensi besi dan will not
growing well,” jelas dr.Meta
lagi.
Nggak heran kalau
akhirnya dr. Meta bilang, “Please…. Jangan gampang ikutan tren. Cari tahu dulu yang bener
kaya gimana. Kan kalau dalam agama Islam juga ada hadist yang bilang, ‘Jika
urusan diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu’,”.
Kemarin, saya juga
sempat tanya, apakah semua dokter anak punya pandangan serupa, tidak
merekomendasikan BLW untuk dikenalkan sejak awal MPASI? Dan, menurut dokter
Meta, memang iya. Sampai sekarang IDAI mengacu pada WHO yang merekomendasikan pemberian
MPASI secara responsive feeding, bukan BLW. Kalaupun ada dokter yang memberikan
rekomendasi, kemungkinan besar bukan dokter anak.
Nulis soal ini
saya jadi flash back sedikit, zaman jadi ibu baru dan lagi getol-getolnya cari
informasi soal MPASI, saya pun pernah membaca soal BLW. Tapi, waktu itu saya
memang nggak menerapkannya. Saya lebih memilih metode pemberian MPASI
yang konvensional. Lebih dulu buah-buahan, sayur, dan berbagai jenis protein
dengan cara dihaluskan. Lambat laun, teksturnya pun jadi lebih kasar.
Ketika anak saya
usia sudah masuk 7 bulan, baru deh saya kenalin dengan finger food. Itu pun
cuma dikenalkan aja, karena saya tetap nyuapin. Bukan apa-apa, saya sih, cuma
takut kalau kandungan nutrisinya nggak tercukupi kalau memang nggak saya suapin. *ibu parnoan*.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar